Imam Abu Hamid Al-Ghazali
mengatakan bahwa: Al amalu ka aljasadi wal ikhlaashu ka al-ruuhi.
Secara tekstual maqalah di atas dapat diartikan bahwa amal ibadah ibarat jasad atau tubuh manusia, dan rasa ikhlas ibarat ruh (yang menggerakkan jasad).
Ungkapan dari seorang alim yang makrifat kepada Tuhannya ini mengandung makna yang sangat dalam sebagai dasar dari bobot sebuah amal ibadah. Sangat disayangkan ketika seorang banyak beramal, melakukan segala hal yang kita berharap pahala atau balasan kebaikan dari Dia, namun tanpa disadari ternyata semuanya kosong, hanya rasa capek, kenikmatan sementara, bangga, ujub, dll. Belum lagi jika amal yang dilakukan berkaitan dengan materi yang tidak sedikit.
Kadar keikhlasan seseorang tidak bisa diukur dengan alat secanggih apapun, karena ia berada dalam hati dan hanya Allah lah yang mengetahuinya. Kalau demikian hanlya, bagaimanakah indikasi atau ciri-ciri seseorang yang beramal dengan ikhlas?
Selain niat yang tulus hanya karena Allah dan mencari keridloan-Nya, bukan karena ingin dipuji atau dilihat manusia, berusaha untuk tidak diketahui orang lain (sirr), tidak mengingat kembali apa yang telah diberikan, serta kesadaran bahwa semua tidak akan terwujud tanpa pertolongan dan anugerah-Nya, menurut penulis hal yang mendasar dengan keikhlasan seseorang adalah ketauhidan atau dasar akidah islamiyah.
Tanpa didasari dengan akidah yang kuat, mengakui bahwa apa yang kita kerjakan, apa yang terjadi dan yang akan terjadi semua adalah atas titah-Nya, tidak berlebihan jika dikatakan rasa ikhlas akan sulit terwujud.
Serang ulama pernah menyampaikan bahwa seseorang tidak akan mencapai tingkat keikhlasan yang baik jika ia tidak memiliki tauhid (pengakuan bahwa Allah SWT Mahaesa). Beliau mengambil sebuah dalil sederhana dari berbagai dalil-dalil kitab-kitab agama, yaitu dari nama-nama surat di dalam al-Furqon. Semua nama surat dalam Kitab Allah tersebut, selain al-Fatihah (sebagai pembuka/umil kitab) diambil dari salah kalimat dalam ayat-ayat surat tersebut. Sebagai contoh surat al-Baqarah, diambil dari ayat 67, Surat An-Naas, diambil kalimat akhir dari setiap ayat surat tersebut, dan seterusnya.
Terdapat satu surat yang namanya tidak diambil dari kalimat dalam ayat tersebut, yaitu surat
Al-Ikhlas. Surat ini berisi tentang ketauhidan yang menjadi dasar akidah islamiyah. Sang ulama
tersebut menyimpulkan bahwa rasa ikhlas erat sekali dengan ketauhidan pelakunya.
Semoga kita selalu dibimbing Allah untuk dapat beramal dengan tulus hanya karena-Nya. Amin
Tidak ada komentar:
Posting Komentar